Kumpulan Ilmu Yang Sangat Bermanfaat Untuk Kita

Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah

Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah - Hallo sahabat Ilmu Kehidupan Nyata, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Ibadah, Artikel Muamalah, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah
link : Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah

Baca juga


Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah

Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah - giat ibadah aja, dalam penafsiran ibadah mahdhoh, tidak cukup buat jadi muslim yang baik.

islam mengarahkan umatnya tentang penyeimbang ikatan dengan allah swt (hablum minallah) dan juga ikatan dengan sesama manusia (hablum minan nas).

seseorang muslim tidak cukup giat shalat, dzikir, baca quran, dan juga ibadah ritual yang lain.

dia wajib pula menjalakan ikatan harmonis dengan orang lain --tetangga, rekan kerja, teman, saudara, dan juga terlebih lagi yang tidak diketahui.

Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah
Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

"Akan ditimpakan kehinaan kepada mereka kecuali mereka menjalin hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama manusia" (QS. Ali Imran 3: 112).

dalam suatu hadits shahih tentang amal sholih (kebaikan), dari 7 tipe amal baik yang disebutkan rasulullah saw, 5 di antara lain berkaitan dengan hablum minannas ataupun interaksi sosial. baca: islam ajarkan umatnya hirau sesama.

Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah

perihal itu menampilkan, muslim yang baik bukan cuma giat ibadah ritual, tetapi pula suka ibadah sosial. dalam sebutan terkenal diketahui dengan kesalehan sosial, ialah kebaikan perilaku terhadap sesama.

Bahkan Rasululullah Saw menegaskan: 

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya" (H.R. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengutip sebuah kisah menarik. Pada zaman Nabi Saw, ada seorang wanita yang rajin beribadah, puasa dan shalat malam, namun oleh Rasul Saw ia digolongkan sebagai ahli neraka (Hiya Fin Nar) karena hubungan dengan manusianya jelek alias berakhlak buruk --suka menyakiti tetangga dengan lisannya.

cerita menarik yang lain merupakan tentang ratusan ribu orang tidak diterima ibadah hajinya, kecuali terdapat satu orang tukang sepatu bernama muwaffaq dari damsyik (damaskus), yang tidak dapat berangkat haji, akan tetapi hajinya diterima.

muwaffaq tidak berangkat haji, akan tetapi allah mencatatnya telah berhaji. diriwayatkan, sesungguhnya dia sudah bernazar buat berangkat ibadah haji. dia memiliki bekal sebesar 300 dirham atas jasanya menambal sepatu seorang.

dengan beberapa duit tersebut, muwaffaq bernazar buat berangkat berhaji, dia terasa pribadinya telah sanggup berangkat haji. akan tetapi, saat sebelum hasrat itu terlaksana, dia mengalami rumah tetangganya yang ditempati kanak-kanak yatim tengah hadapi kesusahan santapan.

duit 300 dirham simpanannya, yang rencananya dipakai buat pengeluaran ibadah haji, dikasih kepada tetangganya tersebut supaya dapat dibelanjakan untuk kanak-kanak yatim di situ. sedekah muwaffaq dinilai bagaikan ibadah haji oleh allah swt.

Orang Bangkrut di Akhirat

Tadzkirah lain tentang pentingnya hubungan baik dengan sesama manusia adalah peringatan Rasulullah Saw tentang orang yang bangkrut di akhirat.

Perbuatan aniaya atau perilaku buruk menyakiti orang lain akan menghilangkan pahala shalat, puasa, zakat yang sudah dikerjakan

أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim).

Karenanya, Rasulullah Saw juga menganjurkan meminta kehalalan (minta maaf) selama di dunia.

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كاَنَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah berbuat kedzaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatan saudaranya atau perkara-perkara lainnya, maka hendaklah ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut pada hari ini (di dunia) sebelum (datang suatu hari di mana di sana) tidak ada lagi dinar dan tidak pula dirham (untuk menebus kesalahan yang dilakukan, yakni pada hari kiamat). Bila ia memiliki amal shalih diambillah amal tersebut darinya sesuai kadar kedzalimannya (untuk diberikan kepada orang yang didzaliminya sebagai tebusan/pengganti kedzaliman yang pernah dilakukannya). Namun bila ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah kejelekan orang yang pernah didzaliminya lalu dipikulkan kepadanya.” (HR Bukhari).

demikian berarti ibadah sosial, tidak hanya ibadah ritual. jelas, giat ibadah ritual aja tidak cukup. islam mengarahkan penyeimbang ritual & sosial. shalat, zakat, puasa, haji, dan juga ibadah mahdhah yang lain, wajib diimbangi dengan kebaikan kepada sesama.



Demikianlah Artikel Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah

Sekianlah artikel Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah dengan alamat link http://ilmudariayu.blogspot.com/2016/12/hal-yang-di-ajarkan-dalam-islam-selain.html
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Hal yang Di Ajarkan Dalam Islam Selain Rajin Ibadah